Oct 26, 2015

Resensi Sayap-Sayap Mawaddah

1

Photo by Me

Menjaga Keutuhan Rumah Tangga Melalui Mawaddah

Judul: Sayap-Sayap Mawaddah
Penulis: Afifah Afra & Riawani Elyta
Penerbit: Penerbit Indiva
Cetakan: I, Juli 2015
Tebal: 208 halaman
ISBN: 978-602-1614-65-5


Sesungguhnya, hakikat sebuah pernikahan bukanlah solusi atas kesendirian yang dirasakan seorang insan. Lebih dari itu, pernikahan merupakan gerbang menuju dunia baru. Dunia di mana seorang istri dan suami dihadapkan pada komitmen dan percik-percik masalah dalam rumah tangga. Ketika permasalahan dibiarkan begitu saja, maka hal itu akan berpotensi mengancam keutuhan rumah tangga.

Tentu bukan perkara mudah mengatasi problematika rumah tangga. Terlebih tak ada ilmu pasti mengenai hal ini. Namun, ikhtiar tetap harus dilakukan. Melalui buku Sayap-Sayap Mawaddah inilah, kita diajak untuk menyelami konsep mawaddah, yang mana adalah salah satu cara untuk menjaga keutuhan rumah tangga.

Mawaddah. Tentu kata ini tak asing lagi di telinga kita. Kita kerap mendengarnya sebagai doa bagi para pengantin baru: semoga sakinah, mawaddah, warahmah. Namun, sudah paham kah arti mawaddah? Menurut Imam al-Mawardy, definisi mawaddah adalah semacam perasaan cinta yang bersifat fisik, passionate (gairah), sebagaimana yang terjadi antara dua orang yang berlawanan jenis (hlm. 24). Jadi, bisa disimpulkan mawaddah adalah ekspresi cinta yang diwujudkan dalam bentuk seksual. Atau dalam hal ini wujud mawaddah adalah jima’ (seks).

Laki-laki dan perempuan memang diciptakan dengan insting seksual. Insting tersebut mulai aktif ketika menginjak akil balig, yang membuat mereka tertarik satu sama lain secara fisik, dan merasakan dorongan pemenuhan kebutuhan seksual. Pemenuhan tersebut bermuara pada jima’ (seks). Dalam Islam, jima’ dilakukan secara legal di bawah ikatan pernikahan yang sah.

Beberapa orang masih enggan membicarakan seks secara terbuka. Masih banyak yang menganggap obrolan seks berada dalam lingkup pribadi, sehingga tabu untuk dibicarakan. Padahal, seks adalah komponen penting dalam penikahan, dan merupakan salah satu pilar dari mawaddah. Dengan kehidupan seks yang sehat, maka akan tercapai kehidupan pernikahan yang harmonis, di mana pasangan suami istri merasa bahagia lahir dan batin.

Seksualitas (kehidupan seks) pada manusia berbeda dengan hewan. Pada manusia, seksualitas lebih kompleks, berkaitan erat dengan hubungan antarindividu yang melibatkan daya tarik rohaniah dan badaniah (psikofisik) (hlm. 59). Sebab itulah, dimensi seksualitas pada manusia tak melulu melalui hubungan kelamin. Namun, juga melibatkan emosi dan kondisi psikis pelakunya. Dalam hal ini, cinta yang dirasakan pasangan suami istri memiliki peranan penting. Tanpa cinta, jima’ hanya akan seperti ritual tak bermakna. Ketika itu terjadi, maka kehidupan pernikahan akan goyah, dan bisa saja berujung pada perceraian.

Begitu besarnya peran cinta bagi suami istri, sehingga perlu diupayakan terus memanas tiap hari. Secara garis besar, ada tiga cara untuk menumbuhkan cinta dalam rumah tangga, yaitu dengan learn to love (belajar mencintai), show your love (tunjukkan cintamu), dan prove your love (buktikan cintamu) (hlm.92-96).

Ibarat bercocok tanam, cinta harus disemai, dipupuk, dirawat, dan dijaga dengan baik. Salah satu cara menjaganya adalah dengan mewujudkan romantisme di dalam rumah tangga (hlm. 79). Banyak sekali wujud romantisme. Kita tak bisa mematoknya sesuai standar yang disajikan kisah fiksi atau tayangan film. Dengan mengenal dan memahami pribadi pasangan, maka kita akan menemukan cara menunjukkan sisi romantisme. Ketika romantisme terjaga, maka cinta akan mengakar kuat. Perceraian pun dapat dihindari, karena modal keutuhan rumah tangga sudah tercukupi.

Seperti diketahui, perceraian adalah perbuatan halal yang paling dibenci oleh Allah (hlm. 153). Walau demikian, kita bisa lihat angka perceraian di tanah air terus meningkat. Perkembangan terakhir bahwa angka perceraian di Indonesia adalah yang tertinggi se-Asia Pasifik (hlm. 144). Tentu banyak faktor yang menggiring pasangan yang telah menikah untuk bercerai. Faktor tersebut bisa berasal dari diri sendiri (internal), ataupun dari luar (eksternal).

Pastinya ada solusi untuk meminimalisir keretakan rumah tangga yang berujung pada perceraian. Dengan membaca buku Sayap-Sayap Mawaddah, Anda akan mendapat pencerahan mengenai hal tersebut. Bahwa intisari mawaddah bukan semata-mata melalui kenikmatan seks belaka, tapi juga berasal dari cinta yang ditumbuhkan, juga komunikasi yang lancar oleh kedua belah pihak.

Mengongkretkan rumah tangga yang harmonis memang butuh usaha ekstra keras. Namun, bukan berarti sulit untuk diwujudkan. Asalkan niat itu dicamkan dalam hati dan disertai tindakan nyata, maka Insya Allah akan terwujud. Saat itulah, pernikahan yang didasari sakinah, mawaddah, warahmah bukan hanya semboyan. Tapi berwujud kebahagiaan hakiki yang dirasakan oleh pasangan suami istri.

1 comment: