Dec 20, 2015

Resensi Pulang – Tere Liye

8


Dunia Shadow Economy dalam Novel Pulang Karya Tere Liye

Judul: Pulang
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Republika Penerbit
Cetakan: VIII, November 2015
Tebal: 400 halaman
ISBN: 978-602-0822-129


Seluk beluk dunia shadow economy dijadikan latar oleh Tere Liye dalam novel terbarunya yang berjudul Pulang (Republika Penerbit, September 2015). Mungkin tak banyak yang mengetahui perihal shadow economy. Di sinilah kelebihan penulis. Ia meramunya dengan apik melalui plot dan karakter yang kuat, disertai adegan laga ala film action.

Novel ini mengambil sudut pandang Bujang sebagai tokoh utama, seorang anak kampung yang diangkat anak oleh Tauke Muda dari Keluarga Tong. Ada perjanjian di masa lalu yang melibatkan ayah Bujang. Dahulunya, ayah Bujang adalah tukang pukul Keluarga Tong. Ketika ia memutuskan untuk berhenti, ada kesepakatan yang diambil. Bahwa ketika ia memiliki anak laki-laki, ia akan memberikannya pada Keluarga Tong.

Bujang pun pindah ke Kota Provinsi dan resmi menjadi anggota keluarga Tong. Bujang memiliki otak yang pintar. Alih-alih dijadikan tukang pukul, Tauke Muda berniat menyekolahkan Bujang demi masa depan Keluarga Tong. Awalnya, Bujang menolak keinginan Tauke Muda. Ia ingin menjadi tukang pukul seperti ayahnya. Namun, ritual Amok menghentikan ambisi Bujang. Tanpa bisa menolak lagi, ia pun menuruti keinginan Tauke Muda untuk bersekolah. Meski demikian, Tauke Muda memberi kesempatan bagi Bujang untuk melatih fisik, seni bela diri, bahkan keterampilan menggunakan pistol.

Bertahun-tahun kemudian, Bujang telah menjadi sosok yang diandalkan Keluarga Tong. Ia seorang negosiator andal, berotak pintar, dan pandai berkelahi. Reputasi Keluarga Tong pun meningkat dari tahun ke tahun. Bisnisnya juga berkembang pesat, bahkan gaungnya terdengar sampai manca negara yang sama-sama menggeluti dunia hitam. Tak ayal, hal ini mengundang iri pihak-pihak tertentu yang tak menyukai kesuksesan Keluarga Tong.

Puncaknya adalah ketika Keluarga Lin dari Makau mencuri teknologi pemindai terbaru milik Keluarga Tong. Bujang terpaksa membunuh Tuan Lin ketika beraksi mengambil pemindai tersebut. Inilah awal mula rentetan konflik yang dilalui Bujang. Ia tak menduga musuh yang harus dihadapinya tak hanya berasal dari Keluarga Lin yang ingin menuntut balas. Namun, juga berasal dari lingkup keluarganya sendiri—seorang kawan yang disegani, tapi memiliki dendam tak terbalaskan, selama puluhan tahun.

***

Kekuatan Tema dan Latar Cerita

Tak dipungkiri, tema cerita yang menarik menjadi salah satu daya tarik bagi pembaca novel. Dalam novel Pulang, Tere Liye mengambil definisi lain dari kata pulang yang ia gunakan sebagai tema, yaitu bukan hanya kembali ke rumah sehabis bepergian, tapi lebih kepada pulang pada hakikat kehidupan (hlm. 388). Inilah yang hendak diamanatkan Tere Liye melalui tokoh Bujang. Kehidupan Bujang yang cenderung mulus tanpa kesulitan yang berarti, menjadi jungkir balik ketika kehilangan orang-orang yang dikasihi. Saat itulah, Bujang belajar memeluk kesedihan yang dirasakannya. Ia pun berdamai dengan masa lalu dan melanjutkan hidupnya. Inilah hakikat kehidupan sesungguhnya yang ingin disampaikan Tere Liye, yaitu ketika seorang insan mampu memeluk kegembiraan dan kesedihannya.

Latar cerita berupa kehidupan orang-orang yang bergelut di dunia shadow economy pun menjadi salah satu elemen menarik dari novel Pulang. Tere Liye memberi pemahaman mengenai sistem ekonomi tak terdeteksi bernama shadow economy, di mana keuntungannya melebihi imajinasi yang mampu kita bayangkan. Bahkan dalam teritorial tertentu, di negara-negara tertentu, organisasi shadow economy lebih besar dan lebih berpengaruh dibanding pemerintahannya (hlm. 32). Terlepas sejauh mana fakta yang dibeberkan Tere Liye, hal ini membuka wawasan bagi pembaca mengenai organisasi dunia hitam. Jelas sekali riset yang dilakukan Tere Liye begitu mendalam mengenai hal tersebut, sehingga narasinya terlihat meyakinkan. Bahkan membuat pembaca berpikir mungkin kehidupan ala Keluarga Tong sungguh-sungguh ada di luar sana.

Kekuatan Karakter Para Tokoh Sebagai Penggerak Alur Cerita

Selain tema yang menarik, elemen yang tak bisa dihilangkan dari sebuah novel adalah karakter para tokohnya. Dalam novel Pulang, Tere Liye menghadirkan tokoh-tokoh yang memiliki peranan penting dalam pergerakan alur cerita. Tak ada tokoh yang mubazir dan dimunculkan sambil lalu. Tere Liye juga menggambarkannya secara apik, tak melulu melalui narasi, tapi juga dari sikap dan ucapannya.

Flash back masa lalu para tokoh di beberapa bab pun makin mempertegas motif. Seperti tokoh Basyir yang begitu menyukai pepatah terkenal Suku Bedouin: “I against my brother, my brothers and I against my cousins, then my cousins and I against strangers.” (hlm. 45). Sekilas, penjelasan tersebut di awal cerita seperti tak ada pengaruhnya. Namun, ketika konflik memuncak, pepatah kesukaan Basyir itulah yang menjadikan motif atas apa yang dilakukannya. Inilah kejutan atau twist yang disiapkan Tere Liye, yang mengecoh siapa dalang di balik kekacauan yang terjadi di Keluarga Tong.

Kekuatan Nilai Filosofis

Meski banyak adegan laga ala film action, Tere Liye tak lupa memberi sentuhan filosofis lewat karyanya. Banyak filosofi hidup yang dapat kita petik lewat tokoh-tokoh di novel Pulang. Seperti ayah Bujang misalnya, ketika ia berusaha mendapatkan ibu Bujang dan bersabar menahan rindu selama bertahun-tahun. Lewat ibu Bujang, kita juga dapat merenungi tulusnya cinta seorang ibu yang tak pernah berhenti, bahkan sampai ajal menjemput.

Loyalitas pun begitu disinggung di novel ini, melalui apa yang terjadi di Keluarga Tong. Dalam organisasi dunia hitam, pengkhianatan orang dalam adalah yang paling krusial. Karena itulah, penting sekali mengetahui orang-orang yang loyal yang tak mungkin berkhianat.

Lewat tokoh Guru Bushi, kita juga tahu filosofi hidup seorang samurai. Bahwa sejatinya samurai bukan hanya seni memainkan pedang untuk melumpuhkan lawan. Samurai adalah cara hidup. Prinsip-prinsip. Kehormatan (hlm. 216). Bujang pun memiliki prinsip yang patut dicontoh. Ia tidak setia pada orang atau kelompok, tapi kesetiaannya ada pada prinsip hidupnya: bahwa kesetiaan terbaik adalah pada prinsip-prinsip hidup, bukan pada yang lain (hlm. 187-188).

Kelemahan dan Kelebihan Novel Pulang

Ada sedikit catatan mengenai kelemahan novel Pulang. Seperti yang dijelaskan di atas, novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama lewat tokoh Bujang. Hal ini berarti narasi yang disampaikan pun terbatas, hanya mengacu pada apa yang bisa dilihat Bujang. Sayangnya, ada ketidakkonsistenan yang terjadi. Ada beberapa adegan yang mana narasinya dijelaskan oleh Bujang, padahal seharusnya Bujang tak tahu-menahu mengenai hal itu karena berada di tempat lain.

Meski ada sedikit kekurangan, namun tak mengurangi keseruan novel setebal 400 halaman ini. Kepiawaian Tere Liye merangkai kata lewat diksinya yang sederhana tapi mengandung makna layak mendapat apresiasi. Membaca Pulang tak hanya menghibur lewat aksinya yang menegangkan ala film action. Tere Liye membawa kita mengeksplorasi dunia shadow economy yang tak tersentuh, yang praktiknya sanggup menjadikan kita bidak-bidak catur para penguasa.

***

Sejatinya, hakikat pulang memang tak sedangkal ketika kita kembali ke rumah yang dilingkupi ketenangan. Lebih dari itu, pulang yang ingin disampaikan Tere Liye adalah perjuangan tanpa ujung, ketika kita berusaha merangkul kesedihan dan kebencian yang dirasakan, dan kembali pada Tuhan:

“Sungguh, sejauh apapun kehidupan menyesatkan, segelap apapun hitamnya jalan yang kutempuh, Tuhan selalu memanggil kami untuk pulang.” (hlm. 400)

8 comments:

  1. gak pernah baca novel Tere Liye sih tapi kalo dari resensinya kayaknya seru. apalagi yang bagian shadow economy (baru tau ada gituan). penasaran pengin baca jadinya. btw ini buat lomba itu ya? wish you luck ya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. baca deh rik. asli seru bgt! ini jg pertama kali baca. langsung ketagihan hoho.

      Delete
  2. Aku uda baca Pulang! Seru! Eh aku setuju tuh yg POV nya itu. Agak aneh sih, padahal kan POV 1. Untung ceritanya bagus jadi langsung kelupa deh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. menurutku sih sengaja biar kerasa pas tegang2nya gitu. tapi emang gak pas sih, kesannya janggal.
      btw makasih udah mampir ya fel :D

      Delete
  3. Lengkap banget en reviewnya. Keliatannya menarik.. setelah baca resensimu jadi pingin cari novel ini. Keep writing ya en! :D

    ReplyDelete
  4. Replies
    1. terima kasih sudah mampir mas prito :D

      Delete